INDO GEN Z – Telur menjadi salah satu sumber protein yang mudah ditemukan dan kerap menjadi pilihan menu sehari-hari. Namun, perdebatan mengenai telur ceplok atau telur dadar yang lebih sehat masih sering muncul, terutama di kalangan masyarakat yang mulai memperhatikan pola makan dan asupan kalori.
Berdasarkan informasi yang dipublikasikan media IPB University dan diakses pada 17 Juli 2026, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa secara umum kandungan gizi telur ceplok dan telur dadar tidak memiliki perbedaan yang berarti.
Perbedaan utama keduanya justru dipengaruhi oleh cara pengolahan, terutama jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan saat memasak.
“Secara umum tidak ada perbedaan kandungan gizi yang berarti antara telur ceplok dan telur dadar. Yang membedakan biasanya adalah kandungan lemak, bergantung dari jumlah minyak yang digunakan untuk memasak,” ujar Karina.
Telur dadar berpotensi mengandung kalori dan lemak lebih tinggi karena dalam proses memasaknya cenderung menyerap lebih banyak minyak. Nilai energi juga dapat meningkat apabila ditambahkan keju, tepung, sosis, atau daging cincang.
Karina menjelaskan, proses memasak justru dapat meningkatkan kualitas protein telur dari sisi daya cerna. Pemanasan menyebabkan protein mengalami denaturasi sehingga lebih mudah dicerna dan diserap tubuh. Daya cerna dan penyerapan protein telur yang dimasak disebut dapat mencapai sekitar 91 persen, dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen.
Meski demikian, telur sebaiknya tidak dimasak menggunakan suhu terlalu tinggi dalam waktu lama. Suhu memasak yang dianjurkan berkisar 60–80 derajat Celsius. Sementara pemanasan di atas 150–160 derajat Celsius berpotensi merusak sebagian asam amino dan menurunkan kualitas gizinya.
Bagi masyarakat yang sedang menjaga berat badan, metode memasak tanpa minyak seperti merebus, mengukus, atau membuat poached egg dapat menjadi pilihan. Telur ceplok dan telur dadar tetap bisa dikonsumsi dengan membatasi penggunaan minyak, misalnya memakai wajan anti lengket atau minyak semprot.
Karina juga meluruskan anggapan bahwa kuning telur harus dihindari karena mengandung kolesterol. Menurutnya, kuning telur justru kaya vitamin dan mineral penting. Konsumsi telur juga tidak terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung, sementara peningkatan kolesterol darah lebih dipengaruhi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
Dengan demikian, telur tetap dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang selama cara pengolahan dan bahan tambahan yang digunakan tetap diperhatikan.
