BOGOR — Bagi sebagian orang, pulang kampung identik dengan liburan atau berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi 400 dosen IPB University, pulang kampung tahun ini memiliki makna yang berbeda. Mereka kembali ke daerah asal bukan untuk beristirahat, melainkan membawa ilmu pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat melalui Program Dosen Pulang Kampung (DOSPULKAM) 2026.
Sebanyak 400 dosen yang tergabung dalam 100 tim resmi dilepas Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, di Auditorium FMIPA IPB University, Selasa (14/7/2026). Program yang memasuki tahun kelima sejak diluncurkan pada 2022 itu akan menjangkau 97 desa di 55 kabupaten/kota yang tersebar di 15 provinsi, mulai dari Sumatera Utara hingga Maluku Utara.
Keunikan DOSPULKAM terletak pada pendekatannya. Para dosen tidak ditempatkan di wilayah yang asing, melainkan kembali ke kampung halaman sendiri. Kedekatan dengan masyarakat diharapkan menjadi modal untuk mempercepat penerapan berbagai inovasi yang lahir dari dunia akademik.
Dalam arahannya, Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet menegaskan bahwa program ini bukan sekadar agenda rutin kampus.
“Ini bukan seremonial tahunan. Ini adalah gerakan. Gerakan untuk membawa IPB keluar dari menara gading dan masuk ke tengah masyarakat, para petani, dan para nelayan,” ujarnya.
Alim juga mengingatkan bahwa keberhasilan seorang akademisi tidak hanya diukur dari banyaknya publikasi ilmiah, tetapi juga dari sejauh mana hasil penelitian mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, para dosen diminta menghadirkan solusi yang mudah diterapkan untuk menjawab berbagai tantangan di desa, mulai dari ketahanan pangan, penyediaan air bersih, peningkatan produktivitas pertanian, hingga pengolahan hasil bumi agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Menurutnya, kampung halaman dapat menjadi ruang terbaik untuk membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
Melalui DOSPULKAM 2026, IPB University ingin memastikan ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kuliah atau jurnal ilmiah. Sebaliknya, inovasi harus hadir di tengah masyarakat, memberi manfaat nyata, sekaligus mendorong lahirnya desa-desa yang lebih mandiri dan berdaya saing.
