INDOGENZ – Gen Z dan Gen Alfa sering dicap simple minded karena menyukai informasi ringkas, komunikasi langsung, dan solusi yang bisa segera dijalankan. Gayanya serba cepat, praktis, dan enggak suka penjelasan berputar-putar.

Namun, apakah itu berarti mereka malas berpikir? Belum tentu. Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa pola tersebut merupakan bentuk adaptasi terhadap derasnya informasi di era digital.

Tinjauan skoping yang dipublikasikan dalam InPACT 2025 menyeleksi 21 studi empiris dari 945 publikasi potensial mengenai cara belajar Gen Z. Hasilnya, tidak ditemukan satu gaya belajar yang berlaku mutlak bagi seluruh Gen Z.

Meski begitu, beberapa penelitian memperlihatkan kecenderungan mereka menyukai pembelajaran aktif, visual, konkret, dan berurutan. Karakter seperti ini sebenarnya sudah ditemukan pada generasi-generasi sebelumnya. Hanya saja, kecenderungannya terasa lebih kuat pada Gen Z dan Gen Alfa karena mereka tumbuh bersama internet, media sosial, video pendek, serta akses informasi yang serba instan.

Sederhananya, Gen Z dan Gen Alfa lebih mudah menangkap gagasan ketika disertai contoh nyata, demonstrasi, dan tujuan yang jelas. Kalau sebuah konsep bisa dijelaskan lewat video, simulasi, atau praktik langsung, kenapa harus dibuat ribet dengan paparan panjang?

Studi Frontiers in Education pada 2025 juga menyebut Gen Z lebih responsif terhadap pengalaman belajar yang dinamis dan kontekstual. Pembelajaran berbasis proyek, diskusi, serta evaluasi langsung dinilai lebih cocok dibanding metode satu arah yang membuat mereka hanya duduk dan mendengarkan.

Cara berpikir praktis itu juga terlihat dalam urusan karier. Survei Global Gen Z and Millennial 2026 dari Deloitte terhadap lebih dari 22.500 responden di 44 negara menemukan generasi muda lebih mengutamakan stabilitas, keterampilan, dan kesejahteraan.

Hanya 25 persen Gen Z menginginkan perkembangan karier supercepat. Sementara itu, 55 persen memilih menunda keputusan besar karena tekanan finansial. Mereka tetap punya ambisi, tetapi menghitung risiko dan manfaat secara realistis.

Untuk Gen Alfa, tinjauan terhadap 83 studi dalam Discover Education menunjukkan teknologi telah menyatu dengan cara mereka belajar dan berinteraksi. Namun, bukti bahwa kemampuan kognitif mereka benar-benar berbeda dari generasi sebelumnya masih terbatas.

Jadi, simple minded lebih pas dipahami sebagai kemampuan menemukan inti persoalan dan mencari solusi secara efisien. Ringkas boleh, sat-set boleh, tetapi konteks, bukti, dan nalar kritis tetap enggak boleh ditinggalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *