INDO GEN Z – Di tengah dominasi platform streaming dan algoritma digital, semakin banyak dari kalangan Gen Z kembali melirik musik era 1970 hingga 1980-an. City pop Jepang, jazz fusion, funk, soul, hingga vinyl lawas kembali diburu, baik untuk didengarkan maupun dijadikan koleksi.
Fenomena tersebut turut diamati Yasir Hasby, DJ dan kurator musik asal Medan yang dikenal dengan nama panggung Drs.Groove. Ia aktif tampil sebagai DJ di Pos Bloc Medan, sejumlah kafe populer di Kota Medan dan daerah sekitarnya, serta ikut dalam berbagai festival dan agenda musik, seperti Soundrenaline dan kegiatan komunitas Record Store Day.
Menurut Drs.Groove yang aktif nge-DJ sejak 2019 ini, city pop sebenarnya bukan genre tunggal dengan formula yang kaku. Musik ini berkembang di Jepang pada akhir 1970-an hingga 1980-an dengan mencampurkan unsur pop, jazz fusion, soul, funk, disco, AOR, boogie, dan bossa nova.
Vibes-nya identik dengan kota besar, lampu malam, perjalanan naik mobil, pantai, dan romansa urban. Uniknya, banyak lagu city pop bercerita tentang patah hati atau kesepian, tetapi dibungkus dengan musik cerah yang tetap bikin badan bergoyang.
Lagu yang pertama kali membuat Drs.Groove jatuh cinta kepada city pop adalah Sparkle milik Tatsuro Yamashita.
“Lagu yang bikin aku jatuh cinta sama city pop itu Sparkle,” ungkapnya.
Kecintaan tersebut kemudian membawanya berburu album For You karya Tatsuro Yamashita. Ia bahkan memiliki edisi rilisan perdana atau first pressing.
“Album For You isinya enak semua. Ada city pop, soul, boogie, dan perpaduan musik lainnya,” katanya.
Kembalinya city pop berjalan beriringan dengan bangkitnya budaya analog. Gen Z kini kembali melirik headphone kabel, kamera analog, buku fisik, kaset, CD, dan vinyl. Mereka tentunya bukan anti-teknologi, melainkan sedang mencari pengalaman yang terasa lebih nyata di tengah kehidupan yang serba digital.
Uniknya, tren analog ini justru banyak dipopulerkan melalui TikTok, IG dan media sosial lainnya. Estetika vintage dan budaya Y2K membuat benda-benda lama kembali terlihat keren.
Namun, demam vinyl juga punya sisi lain. Banyak orang membeli piringan hitam hanya untuk koleksi, meski tidak memiliki turntable. Permintaan tinggi kemudian membuat harga vinyl city pop ikut digoreng, terutama album langka dan edisi first pressing.
Bagi Drs.Groove, musik lama kembali dicintai karena punya karakter yang kuat. Teknologi boleh berubah, tetapi lagu dengan aransemen bagus selalu bisa menemukan generasi pendengar baru.
