INDO GEN Z – Pernah merasa emosi sedang campur aduk, tetapi bingung menjelaskan apa yang sebenarnya dirasakan? Ada sesuatu yang bergolak di dalam pikiran, tetapi sulit dipastikan apakah itu marah, takut, kecewa, sedih, atau gabungan dari semuanya.
Situasi semacam ini cukup sering terjadi, terutama di tengah derasnya arus informasi. Ironisnya, sebagian besar informasi yang beredar justru berupa kabar yang mengganggu, meresahkan, atau bikin gak nyaman. Tanpa disadari, paparan tersebut ikut memengaruhi kondisi emosi.
Kemampuan mengenali perasaan menjadi penting karena emosi berpengaruh terhadap cara berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan bertindak. Ketika seseorang tidak memahami apa yang sedang dirasakan, risiko munculnya reaksi impulsif menjadi lebih besar. Sebaliknya, ada juga yang malah terdiam dan bingung menentukan sikap.
Seseorang yang sebenarnya takut kehilangan, misalnya, dapat mengekspresikan ketakutan melalui kemarahan. Orang yang kecewa mungkin memilih diam, menjauh, atau bersikap ofensif karena tidak mampu menjelaskan sumber perasaannya.
Padahal, setiap emosi memerlukan respons yang berbeda.
Kemarahan mungkin membutuhkan jeda sebelum seseorang berbicara atau mengambil keputusan. Ketakutan perlu diperiksa untuk mengetahui apakah ancamannya benar-benar nyata. Kesedihan membutuhkan waktu untuk diproses, sedangkan rasa bersalah menuntut keberanian untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
Semakin akurat seseorang mengenali emosinya, semakin besar pula kemungkinan memilih respons yang sesuai. Daripada hanya mengatakan, “Sedang gak baik-baik saja,” kondisi tersebut dapat diperiksa lebih jauh: apakah sebenarnya sedang takut, kecewa, kesal, berduka, jijik, atau cemas?
Masalahnya, mengenali perasaan memang gak selalu mudah. Dalam satu peristiwa, beberapa emosi dapat muncul secara bersamaan.
Bayangkan seseorang menerima kabar bahwa sahabat dekatnya akan pindah ke luar kota. Ia mungkin ikut senang karena sahabatnya mendapatkan kesempatan baru. Namun, pada saat yang sama, muncul kesedihan karena akan kehilangan teman sehari-hari. Belum lagi kekhawatiran bahwa hubungan mereka tidak akan sedekat sebelumnya.
Kesulitan mendeskripsikan perasaan seperti itu sebenarnya sangat wajar.
Emosi manusia bukan cuma senang, sedih, takut, dan marah. Ada banyak variasi emosi dengan tingkat intensitas dan kombinasi yang berbeda. Keragaman tersebut digambarkan melalui “roda emosi” yang dikembangkan oleh psikolog Robert Plutchik.

Robert Plutchik (1927–2006) merupakan psikolog Amerika Serikat dan profesor emeritus di Albert Einstein College of Medicine yang banyak meneliti emosi dan perilaku manusia. Ia memandang emosi sebagai mekanisme adaptif hasil evolusi yang membantu manusia menghadapi berbagai persoalan dan mempertahankan kelangsungan hidup.
Plutchik membagi emosi manusia menjadi delapan emosi dasar, yaitu kegembiraan, kepercayaan, ketakutan, keterkejutan, kesedihan, rasa jijik, kemarahan, dan antisipasi. Kedelapan emosi tersebut disusun menyerupai kelopak bunga dengan warna yang berbeda.
Setiap emosi mempunyai tingkat intensitas. Dalam kelompok kegembiraan, misalnya, perasaan paling ringan dapat berupa ketenangan atau kenyamanan. Ketika intensitasnya meningkat, muncul kegembiraan. Pada level paling kuat, kegembiraan dapat berkembang menjadi ekstasi.
Pola serupa juga berlaku pada kemarahan. Gangguan kecil mula-mula menimbulkan rasa kesal. Jika pemicunya semakin kuat, rasa kesal berubah menjadi marah, kemudian berkembang menjadi amukan.
Ketakutan bergerak dari rasa waswas menuju takut, lalu menjadi teror ketika intensitasnya sangat tinggi. Kesedihan bergerak dari perasaan murung atau termenung menuju kesedihan yang lebih jelas, kemudian berkembang menjadi dukacita mendalam.
Sementara itu, rasa jijik dapat berawal dari kebosanan, meningkat menjadi penolakan, lalu mencapai tingkat kebencian.
Roda emosi Plutchik juga memperlihatkan bahwa dua emosi dapat bercampur dan menghasilkan perasaan baru.
Kegembiraan yang berpadu dengan kepercayaan melahirkan cinta. Kepercayaan yang bercampur dengan ketakutan menghasilkan kepasrahan. Gabungan ketakutan dan keterkejutan memunculkan rasa takjub, sedangkan keterkejutan yang disertai kesedihan dapat menimbulkan kekecewaan.
Campuran emosi lainnya dapat menghasilkan penyesalan, penghinaan, agresivitas, dan optimisme.
Penyesalan muncul dari perpaduan kesedihan dan rasa jijik. Penghinaan merupakan gabungan rasa jijik dan kemarahan. Kemarahan yang bercampur dengan antisipasi melahirkan agresivitas, sedangkan antisipasi yang disertai kegembiraan membentuk optimisme.
Konsep tersebut menjelaskan mengapa seseorang dapat mencintai sekaligus takut kehilangan, marah sekaligus kecewa, atau bersedih sambil menyesali tindakannya. Perasaan manusia sering kali bukan satu emosi tunggal, melainkan campuran beberapa emosi dengan intensitas berbeda.
Selain konsep roda emosi Plutchik yang sudah legendaris, terdapat pula pemetaan emosi yang dikembangkan Alan S. Cowen dan Dacher Keltner dari University of California.
Cowen, psikolog sekaligus ilmuwan emosi komputasional yang mendirikan Hume AI dan kini bekerja di Google DeepMind, bersama Keltner memetakan pengalaman emosi manusia ke dalam 27 kategori.
Kategori tersebut tidak sepenuhnya berdiri sendiri, tetapi saling terhubung melalui berbagai gradasi emosional. Hubungan di antara emosi dapat dipahami berdasarkan tingkat kenyamanan dan intensitasnya.
Meski penelitian mengenai emosi terus berkembang, roda Plutchik masih relevan digunakan sebagai alat bantu untuk mengenali dan membicarakan perasaan. Namun, konsep ini bukan klasifikasi mutlak yang dapat menjelaskan seluruh pengalaman emosional manusia yang sangat kompleks.
Memahami emosi bukan berarti menolak, menekan, atau menghilangkan perasaan tertentu. Tujuannya adalah mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam diri agar tindakan tidak langsung dikendalikan oleh dorongan impulsif yang justru dapat memperkeruh keadaan.
Dengan mengenali emosi secara lebih akurat, seseorang akan lebih mudah memilih respons yang tepat dan relatif dapat dikendalikan, terutama di tengah zaman yang memang sedang gak baik-baik saja ini.
