INDO GEN Z – Generasi Z yang tumbuh bersama smartphone justru menunjukkan kecenderungan menarik: semakin sering datang ke pusat perbelanjaan. Namun, berbeda dari generasi sebelumnya, tujuan mereka ke mal tidak selalu untuk berbelanja.

Survei platform teknologi finansial Adyen menunjukkan 73 persen responden berusia 18–27 tahun berbelanja langsung di toko setidaknya sekali dalam seminggu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok Baby Boomers yang berada di kisaran 65 persen.

Fenomena ini menunjukkan perubahan fungsi pusat perbelanjaan bagi generasi muda. Mal tidak lagi semata-mata menjadi tempat mencari pakaian atau kebutuhan lainnya, tetapi berkembang menjadi ruang sosial untuk bertemu teman, menikmati makanan dan minuman, hingga sekadar menghabiskan waktu.

Salah satu faktor yang mendorong perubahan tersebut adalah meningkatnya keinginan Gen Z untuk mengambil jarak dari layar. Studi Talker Research untuk ThriftBooks menemukan sekitar 63 persen Gen Z berusaha lebih banyak menjalani aktivitas offline. Sebanyak 54 persen bahkan memiliki waktu khusus tanpa layar dalam kesehariannya.

Kebutuhan terhadap interaksi langsung juga menjadi faktor penting. Direktur Riset Placer.ai Elizabeth Lafontaine menilai kebangkitan pusat perbelanjaan berkaitan dengan keinginan Gen Z mendapatkan komunitas dan hubungan sosial secara langsung.

Kondisi tersebut membuat konsep mal ikut berubah. Kehadiran kedai kopi dan matcha, arena permainan, ruang komunitas, hingga berbagai aktivitas hiburan menjadi semakin penting untuk mempertahankan pengunjung lebih lama.

Industri retail juga mulai memanfaatkan kekuatan fandom. Pop-up store, peluncuran merchandise eksklusif, penandatanganan buku, hingga acara bertemu artis dan kreator menjadi magnet baru bagi konsumen muda. Aktivitas semacam ini memungkinkan pengunjung berkumpul berdasarkan minat yang sama sekaligus menciptakan pengalaman yang sulit diperoleh melalui belanja online.

Dalam beberapa tahun mendatang, pusat perbelanjaan diperkirakan semakin mengandalkan konsep berbasis pengalaman. Ukuran keberhasilan tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa banyak barang yang terjual, tetapi juga berapa lama pengunjung bertahan dan beraktivitas di dalamnya.

Bagi Gen Z, kebangkitan mal ternyata bukan nostalgia terhadap era sebelum belanja online. Mal sedang mendapatkan identitas baru sebagai ruang publik modern untuk makan, bertemu orang lain, mengikuti acara, dan sejenak keluar dari kehidupan yang semakin didominasi layar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *