INDO GEN Z– Banyak orang masih yakin AI gak akan pernah bisa menggantikan manusia. Alasannya hampir selalu sama: AI gak punya emosi, intuisi, kreativitas, empati, atau kemampuan berinovasi. Semua itu dianggap sebagai “superpower” yang cuma dimiliki manusia.
Tapi… yakin?
Kalau dipikir lebih dalam, emosi, intuisi, bahkan kreativitas bukanlah sesuatu yang muncul dari dunia gaib. Semua itu adalah hasil pemrosesan informasi yang terjadi di otak biologis. Otak menerima data dari lingkungan, mengenali pola, membuat prediksi, mengambil keputusan, lalu terus belajar dari pengalaman.
Sederhananya, otak manusia juga bekerja dengan algoritma.
Bedanya, algoritma otak dibangun oleh miliaran neuron hasil evolusi selama ratusan juta tahun. Sedangkan algoritma AI dijalankan oleh chip silikon yang baru berkembang beberapa dekade terakhir.
Jadi, apakah AI bisa memiliki kreativitas atau intuisi?
Kalau pertanyaannya adalah apakah AI bisa menghasilkan fungsi yang mirip dengan kreativitas atau intuisi manusia, jawabannya: sangat mungkin. Bahkan sekarang AI sudah mampu membuat musik, melukis, menulis artikel, merancang produk, hingga membantu menemukan kandidat obat baru. Semua itu dulunya dianggap sebagai pekerjaan yang hanya bisa dilakukan manusia.
Hambatan terbesar AI saat ini justru bukan karena AI “tidak punya jiwa”. Masalah utamanya adalah data, pengalaman berinteraksi dengan dunia nyata, serta kebutuhan energi dan infrastruktur komputasi yang masih sangat besar.
Nah, di sinilah manusia masih unggul jauh.
Otak manusia hanya membutuhkan energi sekitar 20 watt—setara lampu LED kecil—untuk mengendalikan seluruh tubuh sekaligus berpikir, mengingat, berimajinasi, dan mengambil keputusan. Sebaliknya, model AI modern membutuhkan pusat data raksasa dengan ribuan GPU yang mengonsumsi listrik dalam jumlah fantastis.
Karena itulah para ilmuwan mulai mengembangkan biokomputer, yaitu sistem komputasi yang memanfaatkan sel hidup atau neuron biologis agar efisiensinya mendekati otak manusia.
Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi, “Apakah AI bisa menjadi seperti manusia?”
Melainkan:
“Apakah AI harus menjadi seperti manusia untuk mampu menggantikan sebagian besar fungsi manusia?”
Pesawat tidak perlu mengepakkan sayap seperti burung untuk bisa terbang. Mobil tidak membutuhkan kaki untuk berlari lebih cepat daripada manusia.
Begitu juga AI. Ia mungkin tidak akan berpikir persis seperti manusia. Namun itu bukan berarti ia tidak akan mampu melakukan—bahkan melampaui—banyak hal yang selama ini kita anggap sebagai wilayah eksklusif manusia. Di situlah masa depan teknologi menjadi semakin menarik untuk disaksikan.
