Metakognisi terdengar seperti istilah psikologi yang rumit, padahal gagasannya dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Secara sederhana, metakognisi adalah kemampuan untuk mengamati pikiran kita sendiri: apa yang sedang kita pikirkan, bagaimana proses berpikir itu berlangsung, pola apa yang terus berulang, dan dari sudut pandang mana kita melihat suatu persoalan.

Kita biasanya sibuk memikirkan sesuatu, tetapi jarang memperhatikan cara kita berpikir tentang sesuatu itu. Di sinilah metakognisi bekerja.

Misalnya, seseorang sedang kesal karena pesan yang ia kirim tidak segera dibalas. Pikiran pertama yang muncul mungkin, “Dia sengaja mengabaikanku.” Tanpa disadari, pikiran itu kemudian berkembang menjadi berbagai kesimpulan lain: mungkin orang tersebut marah, tidak menghargai, atau sedang menjauh.

Pada level biasa, kita hanya mengikuti aliran pikiran tersebut.

Pada level metakognitif, kita mulai bertanya: Mengapa aku langsung menyimpulkan bahwa dia mengabaikanku? Apa buktinya? Apakah ada kemungkinan lain? Apakah aku memang sering menafsirkan keterlambatan sebagai penolakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak langsung menyelesaikan masalah, tetapi membuat kita mengambil sedikit jarak dari pikiran sendiri.

Dan jarak itulah inti penting metakognisi.

Pikiran manusia tidak bekerja seperti kamera yang merekam kenyataan secara netral. Otak terus menafsirkan informasi berdasarkan pengalaman, ingatan, emosi, harapan, ketakutan, kebiasaan, dan berbagai asumsi yang sudah terbentuk sebelumnya. Karena itu, dua orang dapat melihat kejadian yang sama tetapi menghasilkan kesimpulan yang sangat berbeda.

Metakognisi membantu kita menyadari proses tersebut.

Kita mulai melihat bahwa sebuah pikiran belum tentu merupakan fakta. Sebuah kesimpulan bisa saja hanya hasil dari kebiasaan berpikir tertentu. Sebuah sudut pandang mungkin terasa sangat benar hanya karena kita sudah lama menggunakannya.

Kemampuan ini juga membantu kita mengenali pola berpikir.

Ada orang yang cenderung membayangkan kemungkinan terburuk setiap kali menghadapi ketidakpastian. Ada yang selalu mencari kesalahan dirinya sendiri. Ada yang justru spontan menyalahkan orang lain. Ada pula yang mudah mengambil kesimpulan hanya dari satu pengalaman.

Ketika pola itu belum disadari, kita hidup di dalamnya.

Ketika pola itu mulai terlihat, kita memiliki kesempatan untuk mengoreksinya.

Karena itu, metakognisi bukan sekadar “berpikir tentang berpikir”. Ia lebih mirip kemampuan naik satu tingkat dari isi pikiran.

Alih-alih hanya berkata, “Aku gagal,” kita dapat mengamati, “Aku sedang menafsirkan kejadian ini sebagai kegagalan.”

Alih-alih berkata, “Dia pasti tidak menyukaiku,” kita dapat mengatakan, “Aku sedang membuat dugaan tentang apa yang ada di kepala orang lain.”

Perbedaannya terlihat kecil, tetapi secara psikologis cukup besar. Kalimat pertama membuat kita tenggelam di dalam pikiran. Kalimat kedua menempatkan kita sebagai pengamat terhadap pikiran tersebut.

Metakognisi juga penting dalam belajar.

Seorang pelajar yang memiliki kemampuan metakognitif tidak hanya bertanya, “Apakah aku sudah belajar?”, tetapi juga, “Apakah aku benar-benar memahami materi ini?”

Ia mungkin menyadari bahwa membaca ulang sebuah bab berkali-kali membuat materi terasa familiar, tetapi belum tentu berarti ia benar-benar menguasainya. Lalu ia mengganti strategi: mencoba menjelaskan kembali dengan kata-katanya sendiri, membuat pertanyaan, atau menguji ingatan tanpa melihat buku.

Dengan kata lain, ia bukan hanya belajar. Ia mengamati bagaimana dirinya belajar.

Prinsip yang sama berlaku dalam pengambilan keputusan.

Ketika ingin membeli sesuatu, misalnya, kita dapat bertanya apakah keputusan itu benar-benar berdasarkan kebutuhan atau sekadar dorongan sesaat. Ketika sedang marah, kita dapat memperhatikan apakah penilaian terhadap seseorang sedang dipengaruhi emosi. Ketika merasa sangat yakin terhadap suatu pendapat, kita dapat bertanya apakah kita sudah sungguh-sungguh mempertimbangkan informasi yang berlawanan.

Metakognisi tidak menjamin bahwa kita selalu benar.

Justru salah satu bentuk metakognisi yang paling matang adalah kemampuan menyadari kemungkinan bahwa kita keliru.

Inilah sebabnya orang yang cerdas belum tentu memiliki metakognisi yang baik. Seseorang bisa memiliki pengetahuan luas dan kemampuan analisis tinggi, tetapi tetap tidak menyadari bias, asumsi, atau kelemahan dalam cara berpikirnya sendiri.

Pengetahuan membantu kita berpikir.

Metakognisi membantu kita memeriksa pikiran itu.

Dalam kehidupan sehari-hari, praktiknya sebenarnya cukup sederhana. Sesekali, ketika sebuah pikiran terasa sangat kuat, kita bisa berhenti sebentar dan bertanya: Apa yang sebenarnya sedang kupikirkan? Mengapa pikiranku bergerak ke arah ini? Apa asumsi yang sedang kupakai? Apakah ada cara lain untuk melihat persoalan yang sama?

Kita tidak perlu melakukan itu terhadap setiap pikiran. Otak menghasilkan terlalu banyak pikiran untuk diperiksa satu per satu.

Tetapi pada saat tertentu, ketika emosi tinggi, keputusan penting harus dibuat, konflik muncul, atau pikiran terus berputar pada persoalan yang sama, metakognisi dapat menjadi semacam tombol zoom-out.

Kita melihat pikiran bukan hanya dari dalam, tetapi juga dari luar.

Di situlah salah satu kemampuan manusia yang paling berguna berada: bukan sekadar kemampuan untuk berpikir, melainkan kemampuan untuk menyadari bagaimana kita sedang berpikir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *