INDO GEN Z – Generative artificial intelligence (AI) semakin mengubah wajah industri kreatif. Mulai dari poster di halte bus, logo usaha kecil, hingga materi promosi di pasar tradisional, hasil desain yang dibuat oleh AI kini semakin mudah dijumpai. Kemudahan tersebut memicu perdebatan mengenai masa depan profesi desainer grafis dan nilai kreativitas manusia di tengah perkembangan teknologi.
Laporan Jennifer William untuk CBC News, yang terbit pada 17 Juli 2026, menggambarkan bagaimana fenomena ini dirasakan langsung oleh para pelaku industri kreatif di Provinsi New Brunswick, Kanada. Teknologi generative AI memungkinkan pelaku usaha membuat logo, poster, maupun materi pemasaran hanya dalam hitungan detik dengan biaya berlangganan yang jauh lebih murah dibanding menggunakan jasa desainer profesional.
Meski demikian, tidak semua kreator memandang AI sebagai ancaman. Eva Liu, seorang concept artist dan animator yang bekerja untuk perusahaan gim mobile, mengaku memanfaatkan AI dalam pekerjaan profesionalnya untuk mempercepat proses produksi. Namun, ia tetap mempertahankan pendekatan manual ketika membuat karikatur langsung bagi pengunjung Garrison Night Market di Fredericton.
Menurut Liu, AI lebih berfungsi sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi, bukan sebagai pengganti kreativitas manusia. Ia menilai perusahaan yang menggunakan AI sebagai alasan untuk memangkas anggaran dan mengurangi tenaga kerja justru salah memahami potensi teknologi tersebut.
Pandangan serupa datang dari Gillian Goldie, desainer grafis senior di New Brunswick Community College. Dengan pengalaman hampir dua dekade, ia mengaku dapat mengenali karya AI dengan mudah karena memiliki karakter visual yang cenderung seragam. Menurutnya, kemudahan sering kali membuat pelaku usaha mengorbankan orisinalitas sehingga identitas merek menjadi kurang autentik dan gagal membangun kedekatan dengan target audiens.
Goldie juga menyoroti aspek etika. Ia menilai penggunaan AI oleh perusahaan besar berpotensi merendahkan nilai profesi kreatif apabila dijadikan pengganti karya orisinal para desainer.
Di sisi lain, Andrew Bedford, CEO Ginger Agency, justru melihat AI sebagai tahap baru dalam evolusi industri kreatif. Ia membandingkan kehadiran AI dengan munculnya Canva maupun clip art pada masa lalu. Menurutnya, AI akan meningkatkan standar kualitas desain secara umum, sementara layanan bernilai tinggi seperti strategi merek, produksi video, animasi, dan kreativitas konseptual tetap membutuhkan keahlian manusia.
Sementara itu, mahasiswa desain grafis Thomas Martens memilih tetap berkarya sepenuhnya secara manual melalui teknik kolase, cetak, dan lukisan. Ia meyakini bahwa ketidaksempurnaan, emosi, serta pengalaman hidup merupakan elemen yang tidak dapat direplikasi oleh algoritma. Baginya, seni sejati lahir dari pengalaman manusia, sedangkan AI hanya memproses data tanpa benar-benar memahami cinta, kehilangan, maupun kesepian.
Perdebatan mengenai AI dalam dunia desain diperkirakan akan terus berkembang. Namun, pengalaman para kreator di New Brunswick menunjukkan bahwa meskipun teknologi mampu mempercepat proses kreatif, nilai empati, pengalaman hidup, dan orisinalitas manusia masih menjadi fondasi yang sulit digantikan oleh mesin.
Sumber: Diadaptasi dari laporan Jennifer William, CBC News, 17 Juli 2026.
