INDO GEN Z – Kecerdasan buatan (AI) mulai memasuki tahap baru. Selama beberapa tahun terakhir, AI lebih dikenal sebagai teknologi yang membantu manusia menulis, meringkas dokumen, menerjemahkan teks, dan mencari ide. Kini, kemampuannya berkembang semakin jauh. AI mulai dapat menjalankan serangkaian pekerjaan secara mandiri.
Perubahan ini dibahas dalam laporan “AI in 2026: From Adoption to Agentic” yang diterbitkan Harvard Business School (HBS) Working Knowledge. Laporan tersebut merangkum sejumlah riset mengenai pengaruh AI terhadap kreativitas, produktivitas, pengambilan keputusan, dan pengelolaan tenaga kerja.
Salah satu perkembangan utama adalah kemunculan agentic AI. Teknologi ini dapat menerima misi atau tujuan, menyusun rencana kerja, memilih langkah yang diperlukan, lalu menjalankan tugas dengan pengawasan manusia yang relatif terbatas.
Dalam dunia kerja, agentic AI dapat berfungsi seperti staf digital. Seorang pemimpin perusahaan, misalnya, dapat menggunakan AI untuk memantau kompetitor, membaca perkembangan industri, menganalisis jadwal rapat, dan menyiapkan bahan sebelum mengambil keputusan.
AI juga dapat mempelajari pola komunikasi penggunanya. Dari sana, teknologi ini mampu memberikan saran, menyusun pertanyaan, atau membantu seseorang mempersiapkan diri menghadapi pertemuan penting.
Perkembangan tersebut membuat penggunaan AI bergerak dari alat bantu sederhana menjadi bagian dari sistem kerja. Manusia memberikan tujuan dan menentukan batas, sedangkan AI menangani berbagai proses yang memerlukan waktu, pencarian informasi, dan pengolahan data.
Laporan HBS juga menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbuka terhadap otomatisasi. Pekerjaan yang rutin, terukur, dan memiliki prosedur jelas lebih mudah diserahkan kepada teknologi. Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan empati, kepercayaan, tanggung jawab sosial, dan hubungan antarmanusia tetap dinilai memerlukan keterlibatan manusia.
AI juga berpotensi meningkatkan kemampuan seseorang dalam menghasilkan ide. Pekerja dapat menggunakan teknologi ini untuk mencari berbagai kemungkinan, mengembangkan gagasan awal, dan melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
Dampaknya dapat terasa besar bagi karyawan yang belum berpengalaman. Dengan bantuan AI, mereka dapat memperoleh informasi, saran, dan kerangka berpikir yang biasanya baru dikuasai setelah bekerja dalam waktu lama. Kesenjangan kemampuan antara pekerja junior dan senior pun dapat semakin kecil.
Teknologi ini juga membantu mempertemukan berbagai bidang keahlian. Pekerja teknis dapat lebih mudah memahami pertimbangan bisnis, sedangkan pekerja di bidang bisnis dapat mempelajari aspek teknis. Pertukaran sudut pandang tersebut membuat proses pengembangan ide menjadi lebih cepat dan beragam.
Dalam pengambilan keputusan, kepercayaan terhadap AI akan sangat dipengaruhi oleh kualitas hasilnya. Manusia masih lebih dipercaya untuk keputusan yang menyangkut kehidupan orang lain. Penerimaan terhadap teknologi dapat meningkat ketika AI terbukti lebih akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Perubahan ini membuat kualitas tenaga kerja semakin penting. Profesor Harvard Business School Boris Groysberg menggunakan istilah talent density untuk menggambarkan konsentrasi orang-orang berkualitas tinggi dalam sebuah organisasi.
AI dapat memperbesar kemampuan pekerja yang kompeten. Satu orang yang memiliki keahlian, pengalaman, dan penilaian yang baik dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dengan bantuan teknologi. Risiko serupa juga berlaku dalam arah sebaliknya. Kesalahan manusia dapat menyebar lebih cepat ketika diperkuat oleh AI.
Kondisi tersebut berpotensi membuat struktur perusahaan menjadi lebih ramping. Sejumlah kecil tenaga profesional yang didukung AI dapat menangani pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak orang. Peran manusia akan semakin berpusat pada penentuan tujuan, penilaian hasil, kreativitas, tanggung jawab, dan hubungan sosial.
Masa depan pekerjaan akan sangat ditentukan oleh kemampuan manusia dan organisasi dalam menggunakan AI secara tepat. Perusahaan perlu memahami tugas yang dapat diserahkan kepada teknologi, bidang yang tetap membutuhkan manusia, serta cara menggabungkan kemampuan keduanya secara produktif dan bertanggung jawab.
